OnlineSalaf

Kami hadir memberikan peringatan dan berita gembira bagi manusia.

Menasehati Menguasa Haruskah Sembunyi-sembunyi?

Berikut ini adalah contoh dakwah kepada penguasa dengan terang-terangan, dipublikasikan oleh Majalah Ar Risalah No. 137/Vol. XII/16 Dzulhijjah - Muharrom 1434 H/November 2012.

Imam Izzudin bin Abdus Salam pernah menemui Sultan Najamudin Ayyub pada hari raya. Saat itu semua pasukan dan para pembesar istana sedang berkumpul. Sang Imam menghadap kepada Sultan dan berkata dengan lantang, "Wahai Sultan, kenapa Anda membiarkan minuman keras beredar bebas di negeri ini? Apa hujjah Anda di hadapan Allah nanti?"

Majelis tiba-tiba hening. Para hadirin mengira Sultan akan marah karena diserang dengan kritikan keras.  Namun yang terjadi justru sebaliknya. "Saya tidak mengetahui  hal tersebut, karena saya hanya melanjutkan kebijakan para sultan sebelumku."

"Berarti Anda termasuk orang yang difirmankan Allah sebagai orang yang mengatakan, 'Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. (QS. Az-Zukhruf: 23)" Kata Imam yang disebut sebagai sulthonul ulama atau raja para ulama tersebut.

Sang Sultan terdiam tidak bisa berkilah. Ia pun langsung memerintahkan agar semua toko yang menjual minuman keras ditindak tegas, sekaligus menyuruh menutup tempat-tempat maksiat.

Imam Al-Izz tak gentar sama sekali meski yang beliau hadapi adalah seorang sultan. Sebab yang beliau lakukan adalah amar makruf dan nahi munkar. Tak ada yang lebih beliau takuti selain Allah.